RANGKUMAN

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DEMENSIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING STUDI KASUS (DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PADANG PANJANG)

 LATAR BELAKANG
 Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut. Implementasi sistem pakar banyak digunakan untuk kepentingan komersial karena sistem pakar dipandang sebagai cara penyimpanan
pengetahuan pakar dalam bidang tertentu kedalam program komputer dan dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan keputusan dan melakukan penalaran secara cerdas. Salah satu implementasi yang dapat diterapkan adalah dalam dunia kesehatan. Selain sebagai media informasi bagi masyarakat namun juga dapat memberikan diagnosa awal penyakit yang biasanya hanya seorang pakar yang bisa menjelaskan tentang penyakit ini.
Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas seharihari. Seorang penderita demensia memiliki fungsi intelektual yang terganggu dan menyebabkan gangguan dalam aktivitas seharihari maupun hubungan dengan orang sekitarnya. Penderita demensia juga kehilangan kemampuan untuk memecahkan masalah, mengontrol emosi, dan bahkan bisa mengalami perubahan kepribadian dan masalah tingkah laku seperti mudah marah dan berhalusinasi. Perjalanan penyakit demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah, sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari. Terjadi penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengingat waktu dan kemampuan untuk mengenali orang, tempat dan benda. Penderita memiliki kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang tepat dan dalam pemikiran abstrak (misalnya dalam pemakaian angka). Sering terjadi perubahan kepribadian dan gangguan perilaku. Oleh karena itu, penulis mencoba merancang dan membangun sebuah sistem pakar yang dapat membantu penderita dalam menentukan gejala awal demensia dengan membangun sebuah “Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Demensia Menggunakan Metode Forward Chaining Studi Kasus (Di Rumah Sakit Umum Daerah Padang Panjang).

TUJUAN
a. Administrator dapat mengolah data-data penyakit demensia pada lanjut usia, jadi ketika ada penyakit baru yang teridentifikasi administrator dapat melakukan penambahan data.
b. Sistem dapat mendiagnosa penyakit demensia pada lanjut usia dan memberikan solusinya berdasarkan gejala yang dirasakan pasien.
c. Sistem dapat menyediakan layanan pengaksesan informasi yang dibutuhkan pasien atau user, seperti informasi jenis-jenis penyakit dan informasi untuk layanan diagnosa beserta solusinya.

 METODE
1. Proses Pendataan Awal Proses pendataan awal dilakukan untuk mencatat data-data penyakit demensia dan gejala-gejala penyakit,serta pencegahan penyakit tersebut. .
2. Pembuatan Laporan Proses pembuatan laporan dalam melakukan rekap terhadap semua data awal dari diagnosa-diagnosa penyakit demensia Untuk memecahkan masalah yang ada maka penulis menggunakan komputer untuk mempraktekkan secara langsung hasil dari analisa dengan menggunakan Bahasa Pemograman Microsoft Visual Basic Studio 2008.
Spesifikasi komputer yang digunakan:
a. Laptop Toshiba L840 Series 
b. Prosesor Intel®Core™ i5 
c. Memory DDR 4 GB 
d. Harddisk 500 GB

Software pendukung :
a. Windows 7. 
Windows 7 merupakan sistem operasi yang berfungsi sebagai interface atau penghubung antara hardware dan brainware untuk menjalankan program-program apalikasi lain seperti: Office, Pascal, Visual Basic, dan masih banyak yang lainnya. b. Office. 
Office adalah software yang sangat penting dalam melakukan pekerjaan karena didalamnya terdapat berbagai macam wadah yang dipergunakan dalam pengetikan laporan seperti Microsoft word, Exel, Power Point, Akses dan lain sebagainya.

c. Visual Basic (VB). Visual Basic pada dasarnya adalah sebuah bahasa pemograman komputer yang bekerja dalam ruang lingkup Ms.Windows. Visual Basic  dapat memanfaatkan kemampuan Ms.Windows secara optimal, kemampuannya dapat merancang program aplikasi lainnya berbasis Windows.
d. My-SQL SQL (dibaca "ess-que-el") merupakan kependekan dari Structured Query Language. SQL digunakan untuk berkomunikasi dengan sebuah Database. Sesuai dengan ANSI,SQL merupakan bahasa standar untuk sistem menajemen database relasional. Statemen SQL digunakan untuk melakukan tugas-tugas seperti melakukan update terhadap database, atau mengambil data dari sebuah database.

PEMBAHASAN
1.     Context Diagram Diagram kontek adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input ke sistem dan output dari sistem yang diberikan gambaran tentang keseluruhan sistem.

2.     Data Flow Diagram Data flow diagram (DFD) merupakan model dari sistem untuk menggambarkan pembagian sistem ke modul yanglebih kecil. Salah satu keutungan menggunakan DFD adalah memudahkan user yang kurang menguasai bidang komputer untuk mengerti sistem yang akan dikerjakan. Maka untuk menjelaskan lebih rinci mengenai sistem yang di rancang adalah dengan menggambarkan dalam bentuk DFD yang merupakan penjabaran dari context diagram.

3.     Relasi Antar Tabel merupakan suatu hubungan yang terjadi pada suatu tabel dengan tabel lainnya yang berfungsi untuk mengatur suatu database.

KELEBIHAN
Para pengguna dapat mengetahui penyakit demensia tersebut secara spesifik dengan cara menganalisa atau mendiagnosa penyakit secara bertahap sehingga sampai kepada solusi pengobatannya

KESIMPULAN
Kesimpulan Berdasarkan perancangan yang telah dilakukan hingga implementasi sistem pakar berbasis Microsoft Visual Basic 2008 untuk mendiagnosa penyakit demensia dan penanganannya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dengan Penggunaan sistem pakar ini, pasien penyakit demensia maupun masyarakat secara umum, dapat mengatasi permasalahan penyakit demensia beserta pengobatannya.
2. Penggunaann sistem pakar untuk untuk mengendalikan penyakit demensia dan menganalisa penyakit demensia serta pengobatannya atau solusinya secara komputerisasi dapat dengan cepat membantu para pasien penyakit demensia maupun masyarakat umum.
3. Sistem pakar dalam rancangan ini menyediakan solusi-solusi penyakit demensia dan penyakit-penyakit lainnya pada kulit dengan kualitas pakar untuk masalah masalah tertentu.

TEKNOLOGI SISTEM CERDAS


KESIMPULAN: Kecerdasan buatan diciptakan untuk membantu dan mempermudah manusia untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat


Daftar Pustaka :
Kusumadewi.S, Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya), Edisi 2,    Penerbit Graha Ilmu, 2002.
Desiani.A dan Arhami.M, Konsep Kecerdasan Buatan, Penerbit Graha Ilmu, 2002.


MLSI


Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap pemilik perusahaan pasti menginginkan perusahaannya berkembang dengan pesat. Oleh karena itu semua kegiatan dan masalah yang dihadapi perusahaan akan semakin kompleks sehingga terasa sulit bagi pihak manajemen untuk mengadakan pengawasan langsung terhadap seluruh operasi perusahaan. Namun, diperlukan pengawasan langsung terhadap seluruh operasi perusahaan secara efektif.
Pihak manajemen dapat menentukan standar kualitas layanan IS/IT. Penulis menggunakan standar kualitas Information Technologi Infrastruktur Library (ITIL). ITIL merupakan standar kualitas layanan IS/IT dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini ITIL akan menyediakan sebuah framework yang digunakan dalam manajemen IT sehingga menjadi lebih baik. Di dalam framework ITIL, unit-unit bisnis di dalam organisasi yang memberikan komisi dan membayar pelayanan untuk IS/IT dianggap sebagai “pelanggan” layanan IS/IT. Organisasi IS/IT merupakan penyedia layanan untuk pelanggan tersebut. Sebuah perusahaan yang mengimplementasi ITIL akan mendapat berbagai keuntungan, misalnya pelayanan IS/IT menjadi lebih fokus kepada departemen, pembiayaan akan efektif dan efisien, perubahan IT lebih mudah untuk diatur, dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan perusahaan itu sendiri.
Pihak manajemen dapat membentuk suatu departemen audit yang diberi wewenang untuk melakukan pengawasan dan penilaian terhadap pengendalian perusahaan. Audit merupakan suatu aktivitas independen yang diberikan oleh pihak ahli dan independen  atas laporan perusahaan. Laporan perusahaan adalah tanggung jawab manajemen. Peran auditor adalah menyumbangkan kredibilitas mereka dengan cara memberikan pandangan yang wajar dan benar. Auditor juga meningkatkan kredibilitas atas informasi yang disediakan oleh manajemen. Ada dua tipe audit; yaitu eksternal audit, yang merupakan fokus pada laporan-laporan, dan internal audit yang berbasis pada keseluruhan aspek operasional perusahaan. Auditor internal dan eksternal menghasilkan laporan yang berbeda untuk kelancaran jalannya suatu organisasi perusahaan.
Audit internal merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan agar tercipta suatu bentuk pengendalian yang dapat membuat perusahaan terhindar dari kecurangankecurangan yang dapat terjadi di perusahaan dan juga dapat mengetahui apa saja risiko-risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan. Hal ini akan semakin mempermudah perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sehingga sering dengan hal itu dapat pula tercapai tujuan-tujuan perusahaan.
Perusahaan juga memerlukan aktivitas audit internal dalam kegiaran usahanya. Hal ini diupayakan agar menciptakan perusahaan yang sehat dan agar dapat melakukan pencegahan secara dini atas masalah yang mungkin dihadapi oleh perusahaan. Aktivitas audit internak yang konsisten akan mendorong peningkatan efisiensi operasional dan efektivitas usaha sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Pentingnya pelaksanaan fungsi dan peran framework ITIL sebagai standar layanan IS/IT dan tipe audit internal sebagai upaya tercapainya sistem pengendalian yang baik dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan dengan berhasil dan berdaya guna maka penulis tertarik menyusun laporan mengenai Penggunaan Framework ITIL dalam Audit Perusahaan Telkomsel.
1.2 Identifikasi Masalah Penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Tidak adanya proses ITIL yang jelas dalam Perusahaan Telkomsel
2. Sistem Audit yang belum memakai ITIL secara keseluruhan
1.3 Batasan Masalah  Berdasarkan uraian di atas, penulis membuat batasan sebagai berikut :
1. Framework yang digunakan adalah ITIL
2. Perusahaan yang digunakan sebagai studi kasus telah menerapakan standard CMMI
1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba merumuskan masalah yang menjadi dasar dalam penyusunan penelitian ini.
Adapun perumusan masalah tersebut adalah :
1. Apakah framework ITIL dan tipe audit internal sesuai dengan kedudukannya dapat berperan dalam upaya meningkatkan sistem pengendalian intern perusahaan Telkomsel?
2. Apa saja proses dalam ITIL yang harus diterapkan pada perusahaan Telkomsel?
1.5 Tujuan Penilitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah fungsi framework ITIL dan tipe audit internal sudah dilaksanakan sebagaimana semestinya dalam upaya peningkatan efisiensi dan  efektivitas operasional perusahaan.
2. Untuk mengetahui apakah fungsi framework ITIL dan tipe audit internal sesuai dengan kedudukannya dapat berperan dalam meningkatkan sistem pengendalian intern perusahaan.

1.6 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan penulis mengenai pelaksanaan audit internal di lapangan dan membandingkannya dengan berbagai teori terkait yang pernah dipelajari.
2. Bagi perusahaan, penelitian ini memberikan sumbangan dan masukan berupa saran dalam pelaksanaan audit internal untuk menerapkan pengendalian yang baik dan sesuai dengan oraktek yang ada di lapangan.
3. Bagi pembaca dan pihak lain, penelitian ini dapat berguna sebagai bahan referensi dan panduan dalam melanjutkan penelitian di masa yang akan datang.  





Bab II
Kajian Teori

2.1 Internal Audit
Menurut Institute of Internal Auditor (IIA), definisi resmi internal audit adalah sebagai berikut:
“Internal Auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization's operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes.”
Internal audit merupakan aktivitas yang bersifat independen dan terobjek dalam menambah nilai dan meningkatkan operasi di sebuah perusahaan. Langkah-langkah dalam melakukan audit internal adalah :
1. Melakukan penilaian risiko formal bagi organisasi/perusahaan (apa yang penting untuk dilihat)
2. Menyusun audit universe (apa yang berpotensi untuk dapat dilakukan audit)
3. Menyusun rencana audit berbasis risiko (apa yang akan diaudit dan kapan dilaksanakan)
4. Pelaksanaan rencana audit tahunan (pelaksanaan audit)
5. Peninjauan kembali dan me-reformasi (mulai dari awal lagi)
Dalam perkembangan dewasa ini, hampir seluruh perusahaan telah memiliki fungsi internal audit yang dilaksanakan oleh internal auditor perusahaan tersebut, meskipun terkadang hanya berada di level holding company atau di kantor pusat grup perusahaan. Namun demikian, tidak sedikit pula perusahaan yang memilih outsourcing pihak eksternal (konsultan) untuk melaksanakan seluruh fungsi internal audit tersebut. Mekanisme lain adalah sebagian fungsi internal audit dilakanakan oleh staf intern perusahaan (misalnya perencanaan dan pelaksanaan) dan sebagian pelaksanaan fungsi audit lainnya (misalnya supervise dan review) dilaksanakan melalui outsourcing. Mekanisme ini umumnya disebut internal audit co-outsourcing. Internal auditor, Internal audit co-outsourcing masing-masing memiliki pertimbangan sisi keuntungan dan kelemahan.
Dalam praktiknya, pihak internal perusahaan dianggap memiliki pemahaman yang memadai terhadap operasional dan risiko perusahaan, namun pihak internal perusahaan memiliki kelemahan dalam masalah faktor fixed-cost, kepentingan, independensi dan obyektivitas serta benchmarking dan pemahaman best practices. Berbeda dengan pihak eksternal yang memiliki keunggulan dalam independensi, obyektivitas, tidak memiliki kepentingan dalam perusahaan, serta memiliki keunggulan dalam benchmarking terhadap best practices. Selain keunggulan tersebut, dalam hal biaya, outsourcing tentu memiliki pertimbangan biaya yang lebih efisien dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam membangun departemen internal audit.


2.2 CMMI
Capability Maturity Model Integration (CMMI) merupakan suatu model pendekatan dalam penilaian skala kematangan dan kemampuan sebuah organisasi perangkat lunak. CMMI pada awalnya dikenal sebagai Capability Maturity Model (CMM) yang dikembangkan oleh Software Enginnering Institute di Pittsburgh pada tahun 1987. Namun perkembangan selanjutnya CMM menjadi CMMI. CMMI mendukung proses penilaian secara bertingkat. Penilaiannya tersebut berdasarkan kuisioner dan dikembangkan secara khusus untuk perangkat lunak yang juga mendukung peningkatan proses.
CMMI adalah suatu pendekatan perbaikan proses yang memberikan unsur-unsur penting proses efektif bagi organisasi. Praktik-praktik terbaik CMMI dipublikasikan dalam dokumen-dokumen yang disebut model, yang masing-masing ditujukan untuk berbagai bidang yang berbeda.
2.3 ITIL
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) merupakan standard kualitas pelayanan IT dalam suatu perusahaan atau corporate. Dalam hal ini ITIL akan menyediakan sebuah framework yang digunakan dalam manajemen IT sehingga menjadi lebih baik. Di dalam framework ITIL, unit-unit bisnis di dalam organisasi yang memberikan komisi dan membayar pelayanan untuk IT (seperti bagian Human Resource, Accounting) dianggap sebagai “pelanggan” layanan IT. Organisasi IT merupakan penyedia layanan untuk pelanggan tersebut.


Sebuah perusahaan yang mengimplementasikan ITIL akan mendapat berbagai keuntungan, misalnya, pelayanan IT menjadi lebih fokus kepada departemen, pembiayaan akan efektif dan efisien, perubahan IT lebih mudah untuk diatur, dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan perusahaan itu sendiri. Saat ini masih sedikit perusahaan yang mengimplementasikan ITIL, walau demikian apabila dibandingkan dengan framework lainnya seperrti ISO, framework ITIL sebenarnya akan melakukan berbagai perubahan dan perbaikan dari dalam perusahaan itu sendiri, yakni pada departemen IT. Tidak hanya diperusahaan saja, ITIL juga bisa diaplikasikan dilembaga pemerintah baik departemen maupun non departemen.
 







Bab III
Pembahasan

3.1 Studi Kasus
Pada perusahaan Telkomsel, penggunaan ITIL dalam sistem audit internalnya hanya melibatkan 3 macam Service, yaitu Service Monitoring and Performance Reporting, Service Operation dan Service Level Management.
3.2 ITIL
Pada 30 Juni 2007, OGC (Office of Government Commerce) menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:
1. Service Strategy Memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM (IT Service Management) pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsipprinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.

Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah: a. Service Portfolio Management b. Financial Management c. Demand Management

Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai
kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.

Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.

2. Service Design Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.

Ruang lingkup Service Design tidak hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinuitas layanan maupun kinerja dari layanan.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:

a. Service Catalog Management
b. Service Level Management
 c. Supplier Management
d. Capacity Management
e. Availability Management
f. IT Service Continuity Management
g. Information Security Management



3. Service Transition Menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:  
a. Transition Planning and Support b. Change Management c. Service Asset & Configuration Management d. Release & Deployment Management e. Service Validation f. Evaluation g. Knowledge Management

4. Service Operation Merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu: a. Event Management b. Incident Management c. Problem Management d. Request Fulfillment e. Access Management


5. Continual Service Improvement Memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle.
 















Bab IV
Kesimpulan dan Saran

Dalam bab terakhir ini, penulis akan mencoba memberikan beberapa kesimpulan yang berdasarkan pada pembahasan dalam bab-bab terdahulu yang berkaitan dengan peranan framework ITIL dan tipe audit internal dalam  meningkatkan sistem pengendalian internal. Dan pada bab ini penulis juga akan mencoba memberikan saran yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan kemajuan di masa yang akan datang bagi siapa saja yang memerlukannya.

4.1 Kesimpulan Setelah membahas secara teoritis kemudian membandingkan dengan hasil penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Dengan kedudukan audit internal yang seperti itu maka tingkat independensinya menjadi tinggi dan dapat menjaga objektivitas dalam menjalankan fungsi pengawasan yang dilakukan pada seluruh bagian. Internal audit dalam melaksanakan tugasnya tidak terlibat dalam kegiatan operasiobal perusahaan yang menjadi objek pemeriksaannya. Dengan demikian, audit internal terlepas dari pengaruh subjektif dan hasil pemeriksaannya benar-benar objektif.
2. Pemeriksaan yang dilakukan audit internal meliputi seluruh kegiatan bisnis perusahaan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas aspek operasional
3. Audit internal perusahaan berupaya menjaga agar manajemen tetap menjalankan tugasnya sesuai dengan sistem, prosedur, dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
 4. Segala kecurangan dan penyimpangan dalam aktivitas perusahaan dapat diminimalisir, karena adanya Grup Internal Audit yang berkala maupun secara mendadak.

4.2 Saran
Untuk mengakhiri penulisan laporan penelitian ini, penulis mencoba memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Dalam menjalankan tugasnya, internal audit agar tetap  diberikan keleluasaan dan  dukungan dari pihak manajemen sehingga proses pemeriksaan tidak
terhambat hanya dikarenakan adanya perintah atasan yang pada kondisi tertentu dapat membuat pemeriksaan menjadi tidak lancar.
2. Tanggung jawab internal audit agar disosialisasikan oleh pihak manajemen  sehingga internal audit tidak dianggap sebagai pencari kesalahan melainkan sebagai pembina dalam meningkatkan pengendalian sejalan dengan perusahaan.  

DAFTAR PUSTAKA

http://id.linkedin.com/pub/isa-albanna-susianto/53/480/45b
http://meeinstan.wordpress.com/2011/05/13/apa-itu-cmmi-capability-maturity-modelintegrated/
http://blog.sivitas.lipi.go.id/blog.cgi?isiblog&1136664557&&&1036006290&&1335242578 &tuta001&1334202821
http://internalaudit-karmacon.blogspot.com/2010/02/internal-audit-itu-sebenarnya-apasih.html
http://id.wikipedia.org/wiki/ITIL





















TUGAS MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI

NAMA KELOMPOK:
RIZA ARDIANSYACH (15117279)
DZULFIKAR RASPALAKA (1B118715)
GIRHAN ABEDNEGO P (12117564)
THEO DIKAIOS (16117856)


UNIVERSITAS GUNADARMA